Selasa, 31 Agustus 2010

IMABKIN!!! Inilah Kami...


Bismillahirrohmanirrohim..
Assalamu’alaikum wr wb..
Salam sejahtera bagi kita semua..
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah swt, Tuhan YME. Yang dengan rahmatnya kami dapat menyatukan hati-hati kami dan semangat kami sehingga salah satu cita-cita kami, yaitu mahasiswa BK se-Indonesia dapat tercapai.
Shalawat dan salam tak lupa kami haturkan kepada teladan terbaik kami dalam kebaikan, dalam menjalani hidup kami, nabai terakhir umat Islam, Muhammad saw. Beserta keluarga dan para sahabatnya yang terus berkomitmen berjuang di jalan Islam hingga akhir hayat mereka dan semoga kita juga dapat berjuang dan berkomitmen hingga akhir jaman nanti..
IMABKIN terbentuk berdasarkan rancangan para aktivis nan cerdas yang tak lain juga mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Berawal dari pra kongres di UPI-Bandung pada tanggal 16-17 Juni 2007, kini IMABKIN telah menjadi sebuah ikatan mahasiswa BK dalam berjuang bersama memperjuangkan aspirasi dan membuktikan eksistensi mahasiswa di dunia pendidikan khususnya dan dunia kemanusiaan pada umumnya.
Kongres I IMABKIN diselenggarakan pada tanggal 7-9 Desember 2007 yang diselenggarakan oleh panitia dari mahasiswa BK UNJ di kawasan lebak bulus jakarta.
Kongres ini menghasilakn AD ART dan perangkat-perangkatnya beserta DEKLARASI IMABKIN yang diwakili oleh 17 perguruan tinggi di Indonesia.
Semoga tujuan kami dapat tercapai dengan awalan yang baik ini, semoga kami dapat berkomitmen untuk menjalankan amanah ini hingga ada generasi yang menggantikan kami.
HIDUP MAHASISWA..
Wassalamu’alaikum wr wb
-isyawitri-Ka.BEMJ BK FIP-UNJ 2007 / tim FORMATUR IMABKIN 2007

Quo Vadis Konseling? Suatu problema Konseling dewasa Ini

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...
Assalamualaikum Wr.Wb
HIDUP MAHASISWA...
HIDUP BK...
HIDUP IMABKIN...

Sejenak Berbincang Substansi dan Paradigma Bimbingan dan Konseling di Indonesia

Sebelumnya, saya menyampaikan bahwa tulisan ini saya dapatkan dari web mengenai BK, tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan, saya forward-kan tulisan ini agar kiranya teman-teman BK dan para praktisi BK dapat menganalisis dan bisa kembali mendiskusikannya bersama di forum ini atau di forum manapun. Jzkh…..

Cukup lama juga kita tidak asing mendengar Bimbingan Konseling mewarnai perjalanan hidup keilmuan yang ada. Sebagian orang telah dengan sengaja untuk terjun di bidang ini. Bergelut, mangkaji, diskusi, memberikan konsep hingga berujung pada suatu temuan ilmiah yakni teori. Hal ini seakan membawa nama BK menjadi harum dan dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu proses ilmiah menangani problema manusia.
Berpuluh tahun kata konseling dijadikan wacana dari pertalian antara dua orang yang saling berbincang untuk menemukan suatu solusi. Sejak puluhan tahun BK telah menjelma menjadi keilmuan mandiri, yang dibuktikan dengan munculnya jurusan-jurusan BK baik di barat, pun di Indonesia. Walaupun pada akhirnya munculnya jurusan itu masih dimonopoli kampus-kampus pendidikan atau kampus yang berorientasi pada wilayah keguruan.
Secara keilmuan, banyak definisi-definisi yang dipelajari di kampus mencoba memberikan pemahaman bagi mahasiswa mengenai makna konseling, mulai dari mengarahkan, membimbing, pendekatan psikologis atau sekedar curahan hati. Dalam konteks yang cukup serius, -seperti yang ditekankan dalam literatur konseling- konseling menemukan jatidirinya dalam asumsi kapada cengkraman etis profesional, komersial dan persepsi-persepsi yang menisbahkan konseling kepada unsur profesi. Hal itu didasarkan kepada buku-buku pengantar Bimbingan dan Konseling dalam tafsirkn BK dengan penjustifikasian wacana-wacana itu tadi.
Banyak kalangan pada akhirnya, terilhami setting pikiran seperti itu tadi yakni interpretasi BK kepada wilayah yang lebih terlihat personal. Ekses dari hal tersebut seakan menjadikan konseling sebagai salah satu kegiatan yang bernuansa soft atau lembut.
Mengapa akhirnya penulis mempunyai pandangan tersebut?Pertanyaan ini berawal ketika penuls menjalani keseharian menjadi mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Hal itu dilanjutkan kepada beberapa literatur-literatur konseling yang ada, serta untaian-untaian dosen yang menceritrakan mengenai teknis konseling. Seperti Prof Zakiyah Dradjat yang mencoba menjelaskan tentang metode Non Direktif dengan referensi pengalaman beliau selama menjadi konselor.
Seiring zamanpun banyak beberapa pendekatan konseling yang hadir untuk memberi warna baru dan berorientasi pada pemecahan masalah. Hal itu dibuktikan dengan hadirnya metode RET, Trait dan Factor, analisis transaksional, Klinikal, dan banyak lagi.
Ada beberapa hal yang mesti didiskusikan mengenai karakter BK saat ini. Cara yang baik ialah dengan melakukan reinterpretasi mengenai makna BK. Setidaknya ada sekitar 5 masalah yang menjadi “biang keladi” dalam merias wajah BK dewasa ini. Gugatan secara etis layak untuk dimunculkan mengingat sekarang kita sedang bicara mengenai pengembangan BK.
1. Menangani/Mengobati
Konseling tidak tepat rasanya jika hanya dilakukan untuk mengahadapi masalah. Banayak pihak menilai Konselor bekerja menangani masalah yang ada, dan berkesudahan ketika masalah itu terselesaikan juga ataupun ketika klien tidak lagi mendatangi konselor.
Berangkat dari perdebatan antara wilayah kerja BK dan Psikoterapi. Tidak jarang pakar merangkum distingsi (perbedaan) kedua hal tersebut. Seperti dirangkum oleh Latipun mengenai perbedaan keduanya, disebutkan bahwa BK menangani masalah yang situasional sedangkan Psikoterapi menangani emosional yang berat neurosis.
Namun titik tekannya bukan hanya pada kualitas kasus, tetapi pada periodeisasi masalah. Ada baiknya BK tidak hanya disibukkan pada bentuk layanan mengobati masalah, tetapi ada bentuk yang dilupakan sebagai ciri khas kesempurnaan serta kemapanan BK yaitu mencegah dan membangun.
2. Lisan
Dalam era globalisasi ini dimana segala hal serba baru dan kreatif, banyak ilmu dipacu untuk mengepakkan sayapnya dalam menangani krirsis manusia modern. Tak terkecuali BK yang patut menyeburkan diri dalam pusaran ini.
Dunia jurnalisme sebagai dunia tulis menulis dapat dijadikan partner untuk mengemas BK melalui tulisan yang termuat dalam media massa. Internet? Rasanya diandalkan dalam mewujudkan visi ini, seperti yang dilakoni e-psikologi dengan konseling via emailnya. Atau lebih menariknya guru BK dapat membuat semacam rubrik BK dengan kemasan menarik untuk memikat siswanya. Hal ini dirasa perlu karena tidak setiap orang dapat mendatangi konselor, selain itupun banyak individu yang canggung berbicara kepada konselor.
3. Institusi Pendidikan
Permalahan ini cukup urgen, bahwa BK ialah ada di Sekolah, secara tak langsung. Memepersempit ruang kerja BK. Ini tidak lepas dari “monopoli” jurusan BK yang diletakkan di kampus keguruan dan pendidikan. Dan khususnya di Indonesia fenomena ini pun belum dirasa berkembang secara signifikan untuk membentuk BK non pendidikan.
Disudut realita, sebenarnya tidak semua kampus memojokkan BK ke wilayah ekslusifitas pendidikan, toh ada beberapa keguruan yang mencoba untuk lepas dalam pergulatan pemikiran dengan tujuan akhir pendidikan. membuka studi konseling karir, lintas budaya atau sosial kemasyarakatan. namun hidupnya jurusan itu di kampus-kampus dengan latar keguruan, akhirnya sulit membenamkan rasa apriori pada 2 wilayah yaitu keilmuan dan ruang kerja.
4. Individu
Individu pun tidak kalah pentingnya dalam menciptakan sebuah nilai atau paradigma. Seperti yang disebut diatas tadi, tentang stigma BK sebagai jurusan yang soft memang tidak bisa dielakkan, ketika BK masih berfokus pada penanganan individu.
Penulis melihat stigma individu nyang ditanamkan kepada BKI, berkenaan dari berbagai teori yang ada. Secara historis wajar jika teori itu berorientasi kepada individu, mengingat teori BK belum lepas dari penciptanya yang berasal dari psikologi atau psikiatri. Sebutlah Carl Rogers, Ivan Pavlov, BF Skinner, Alfred Adler dan sebagainya
BK sebagai event monopoli individu, tentu tidak etis diletakkan pada asumsi yang salah. Akan Tetapi berangkat dari corak suatu budaya dan masyarakat yang juga bangga dengan jati diri massa, perlu dipertimbangkan. Banyak individu yang merasa nyaman dengan pendekatan BK secara massa. Analogi mudahnya seperti pertandingan sepakbola. Ada orang yang nyaman menonton sendiri, namun banyak juga yang lebih menikmati jalannya pertandingan secara beramai-ramai, atau pula berangkat langsung ke stadion, melihat bintang pujaan. Ini berarti BK pun dapat menarik, jika dikemas dalam bungkus massa, dengan dampak positif para klien dapat terpacu adrenalinnya.
Ada yang perlu yang diingat bagi model intervensi secara massa. BK secara massa harus pula dibingkai yang bersifat dinamis, progresif dan mengikuti pola-pola yang kreatif sesuai tuntutan zaman.
5. Inisiatif Klien
Perguruan tinggi mempunyai 3 karakter yang dipelihara secara luhur yang populis disebut tridharma. Pengajaran, penelitian serta pengabdian masyarakat. Secara etis tiga hal itu mesti dipraktikan juga dengan kreatif dan penuh dinamisasi. Konselor sebagai pengabdi masyarakat mesti berperan aktif dalam menciptakan suatu tatanan masyarakat madani. Konsekuensi logis dari hal ini adalah aktivasi BK digalakkan dalam suatu setting kemasyarakatan. Tidak sepantasnya konselor hanya menuggu inisiatif klien datang, dan berorientasi komersial. Hal ini sebagai tantangan LSM BK yang mempunyai target-target pembinaan masyarakat.

Membuka Tabir substansi Bimbingan dan Konseling.
Perdebatan mengenai bimbingan dan konseling memang jarang mengemuka, namun bukan menjadi suatu pedoman untuk tidak kita meintensitaskannya. Hal ini berguna sebagai titik tolak untuk menuju dinamika bimbingan dan konseling itu sendiri. Akhirnya wilayah ini memang harus disosialisasikan.
Selama ini diskusi yang dilakukan, lebih sering kepada bentuk metode ataupun pengulasan suatu kasus. itu artinya perdebatan konseling selama ini lebih diarahkan kepada bentuk konseling. Padahal selain itu ada satu hal lagi yang jauh lebih penting atau dapat juga disebut kontroversial yaitu substansi. Titik tekan inilah yang penulis akan tembak.
Penulis melihat wilayah ini cukup urgen untuk kita bedah dan urai dalam bentangan keilmuan bimbingan dan konseling. Karena landasan dari wajah BK salah satunya dimainkan oleh peran serta substansi. Ibarat sayuran substansi dapat menjadi sayuran itu sendiri, atau dapat pula menjadi garam.
Satu hal yang terus mengganjal dalam batin yang berkaitan dengan substansi BK ialah tidak berkembangnya -secara signifikan- ilmu bimbingan dan konseling baik di kampus maupun dalam praktiknya. Sekian lama ilmu bimbingan dan konseling dikungkung dalam area pendidikan untuk disalurkan ke sekolah-sekolah baik menengah maupun atas.
Fenomena ikatan perseptif antara BK dan dunia pendidikan, akhirnya melahirkan sebuah permasalahan lain yaitu paradigma. pendidikan yang lekat dalam nuansa BK, disadari atau tidak akhirnya menggiring opini masyarakat tentang peran serta BK. Terlebih anggapan yang mengansumsikan BK sebagai polisi sekolah, toh terus bergulir seperti bola panas. Hal ini sebenarnya tidak jauh dari kegiatan BK itu sendiri yang belum mengepakkan sayap secara lebar. Contoh yang dapat direnungkan adalah kegiatan-kegiatan seperti hanya mengajar di kelas, menangani kasus perkelahian, memberi nasehat kepada siswa yang membolos, memanggil anak yang berpacaran dan lain-lain. Pada bentuk itu kita dapat sepakati bahwa itu wajar. Tetapi secara paradigma tentu melenceng dari komitmen. Apalagi BK terseret pada arus yang memaksanya untuk memakai topeng hitam-putih kasus. (Perlu dikritisi)!!!
Karenanya bersandar dari anggapan itu. Masyarakat juga keliru dalam meintepretasikan peran BK. Tentunya akan ada konsekuensi logis dari itu semua, mengingat problema-problema yang dihadapi BK di sekolah belum ditanggulangi secara massif. Beberapa point itu menjadi menarik untuk didiskusikan di sela-sela perkuliahan atau sesama oknum BK, jika mau lebih dari itu, caranya dengan masyarakat.
Efektifitas diskusi adalah perlu dalam menjelaskan substansi BK. Dengan syarat setiap pendiskusi haruslah berpikir kreatif, dinamis, ikhlas, serta mempunyai keinginan kuat untuk merubah kondisi yang ada.
Reintepretasi: Memperdebatkan kembali Apa itu substansi BK?
Sebenarnya wilayah substansi BK cukup sulit diterjemahkan bagi penulis. Bagi penulis pribadi, hal ini disebabkan karena beberapa hal. Pertama-tama mungkin selama ini penulis tidak mendapatkan partner yang tepat untuk menjawab telisikan ini. Banyak oknum yang masih canggung-atau bahkan memang belum tersadar- untuk berwacana sekedar menemukan substansi BK. Ada hal lain yang justru menarik, ide substansi BK yang ingin digulirkan oleh beberapa partner sharing, ternyata terlalu jauh untuk dikatakan sebagai substansi yang ilmiah, sebab menjadi melenceng dari etika BK itu sendiri.
Faktor yang kedua ialah sedikitnya buku-buku atau tulisan-tulisan ilmiah yang mencoba menawarkan konsep substansi secara jelas. Fenomena yang banyak terjadi justru berkembang pada wilayah filosofi suatu metode atau pendekatan konseling.
Untunglah situasi diatas hanya menjadi kerikil-kerikil yang membuat penulis bersemangat, untuk mencoba bergelut pada ide ini. Selain itupun, pengalaman dan kondisi yang malah menjadi “teman” atau motivatior bagi keteguhan tekad menjawab keraguan mengenai substansi BK.
Ada dua hal menjadi pertimbangan dalam meracik substansi BK yang pas di era sekarang. Pertama, Kritisisme dalam membangun argumentasi BK. Ini menjadi dasar untuk mendirikan bangunan substansi BK. Lalu yang kedua adalah mengikat konteks BK yang mempunyai pohon psikologi untuk menjadi pegangan.
Pertama membangun Kritisisme. Sebagai mahasiswa yang hidup di jurusan dengan nafas BK. Terkadang kerap dicap sebagai mahasiswa lembut atau soft, bahkan kalem, pendiam, gak neko-neko. karena BK tidak sedialektika ilmu politik, ekonomi, fillsafat, sosiologi dll. Jadi, yang mereka jadikan untuk mengkritik BK, lebih ditekankan pada keilmuan BK yang lebih mengarah kepada wilayah personal.
Perlu dicatat tak ada ilmu dimanapun juga, dapat berkembang dengan menyisihkan unsur kritisisme di dalamnya. Karena bagian dari menifestasi ilmu itu ya kritis itu sendiri. Kita ambil contoh yaitu filsafat. Sebagai ibu ilmu, filsafat banyak berkembang menjadi ilmu-ilmu baru berkat semangat kritis para punggawanya. Di lingkup psikologi pun mengambil cara kritis dalam kepakkan sayapnya. Psikoanalisis klasik yang menjadi luar biasa di era pada waktu itu, lama-kelamaan menghilang karena nafas para kritikusnya, seperti C.G Jung, yang ialah seorang Freudian sebelumnya. Atau kritikus psikoanalisis lainnya seperti Alfred Adler, yang endingnya menelurkan bentuk psikologi individu.
Maka itu kita harus yakin terhadap kritisisme sebagai salah satu tonggak melahirkan substansi BK. Kritisisme pun harus dilakukan dengan visi yang konstruktif dan relevan agar target tercapai.
Kedua, mengikat konteks BK dengan pohon psikologi. Ada kisah menarik ketika salah seorang dosen dari Bandung yang ditugaskan untuk mengakreditasi jurusan penulis. Ketika selesai melakukan dialog dengan pihak fakultas, Sang dosenpun-yang juga assesor bagi akreditasi jurusan penulis- melihat ruangan praktik BK yang bertempat di Lt.7. ketika sampai, sang dosenpun kaget melihat ruangan BK bertuliskan “ruang konsultasi”.
Kadang terjadi ambiguitas masalah yang penting ini. Di satu sisi secara makna tidak ada perbedaan. Tetapi pada realitanya seharusnya kedua hal itu dipakai dalam konteks yang berbeda. Perlu diperhatikan dengan jelas. Konseling tidak terfokus pada suatu ruang saja dan mempunyai sentuhan psikologis, sedangkan konsultasi digunakan pada satu ruang dan terlepas dengan ranah psikis. Seperti halnya konsultasi bisnis, konsultasi hukum, konsultasi kecantikan, konsultasi keuangan. Atau konsultasi agama. Walaupun ada beberapa yang tidak jelas pemakaiannya, contoh konsultasi perkawinan. Konsultasi perkawinan sebenarnya dapat mewakili keduanya, tergantung ranah atau ruang mana yang dominan.
Orang yang bergerak dalam bidang akademik BKpun sebenarnya tidak luput dalam kekeliruan dua kata ini. Hal itu terjadi pada Lembaga Bimbingan dan Konseling (LBK) UPI Bandung. Dalam situsnya LBK UPI menampilkan kata konsultasi pada salah satu bentuk layanannya. Tetapi ternyata ketika dibuka justru yang keluar adalah kata konseling.
Kenapa hal ini kita perdebatkan dalam substansi. Jawabannya mengarah kepada etika keilmuan yang menodong kita untuk memisahkan sebuah ilmu agar tidak tumpang tindih. Atau dalam konteks filsafat ilmu, popular dengan sebutan ontology.
Dengan kaitannya dengan ontology, Psikologi sebagai akar haruslah tercermin dalam BK. Baik secara teoritis maupun praktis. Kesalahpahaman dalam menafsirkan BK yang telah lama bergeming di paradigma masyarakat, harus juga diarahkan dalam wajah asli BK. Disinilah peran anggota akademik yang lumrah bertanggung jawab, dengan memperjelas wajah asli tersebut, via permainan peran di kampus maupun di masyarakat.
Sekarang kita akan coba mengarahkan tema saat ini mengenai substansi BK. Dalam menemukan substansi BK, ada beberapa gagasan yang dapat kita tarik melalui definisi ahli dengan melihatnya di beberapa buku pengantar. Donald G. Mortenson dan Alan M.Schmuller dalam bukunya Guidance in Today’s Schools seperti dikutip Dewa Ketut Sukardi, konseling dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan dengan seseorang, dimana seseorang dibantu oleh orang lainnya untuk meningkatkan pengertian dan kemampuannya dalam menghadapi masalahnya.
Definisi senada juga dicetuskan oleh Pepinsky and Pepinsky yang mengatakan konseling adalah suatu proses interaksi yang terjadi antara dua orang individu yang disebut konselor dan klien, terjadi dalam situasi yang bersifat pribadi diciptakan dan dibina sebagai suatu cara untuk memudahkan terjadinya perubahan-perubahan tingkah laku klien, serhingga memperoleh keputusan yang memuaskan kebutuhannya.
Definisi yang lebih komperhensif dan berkarakter ditawarkan oleh C.H Pattersson. Seperti yang dicatat oleh Dewa Ketut Sukardi. Pattersson mengemukakan karakteristik yang terkandung dalam batasan konseling sebagai berikut:
a. Konseling ialah berhubungan dengan usaha, untuk mempengaruhi perubahan sebagian besar dari tingkah laku klien secara sukarela.
b. Maksud dari konseling ialah menyajikan kondisi yang dapat memperlancar dan mempermudah perubahan sukarela itu.
c. Klien atau konseli mempunyai batas gerak sesuai dengan tujuan konseling secara khusus ditetapkan bersama oleh konselor dan klien pada waktu permulaan proses konseling itu.
d. Konidisi yang memperlancar perubahan tingkah laku itu diselenggarakan melalui wawancara.
e. Suasana mendengarkan terjadi dalam konseling, tetapi tidak semua proses konseling itu terdiri dari mendengarkan itu saja.
f. Konselor memahami klien.
g. Konseling diselenggarakan dalam keadaan pribadi dan hasilnya dirahasiakan.
h. Klien mempunyai masalah-masalah psikologis dan konselor memiliki keterampilan atau keahlian di dalam membantu memecahkan masalah-masalah psikologis yang dihadapi klien.
Dari ketiga definisi diatas tersirat konseling diartikan sebagai kegiatan yang melibatkan dua individual, antara konselor dan klien. Suasananyapun bersifat pribadi dan penekanannya pada perubahan tingkah laku dalam menghadapi masalah. Sedangkan dalam konteks ikatan emosinal yang dibentuk, dicoba digiring untuk memahami serta mengerti permasalahan serta klien.
Pengertian tadi juga mencerminkan nilai vital dari jatidiri BK selama ini. Dampak dari hal tersebut akhirnya bergumul dengan tujuan akhir membentuk paradigma BK saat ini. Karenanya arti-arti tersebut memanglah belum lepas dari pandangan BK klasik yang dimana BK masih dinisbahkan terhadap pertemuan dua individu dalam mencapai tujuan. Tiga buah definisi tersebut juga tidak boleh sembarangan digeneralisir terhadap arti BK itu sendiri. Rasanya itu yang muncul bila kita coba memunculkan definisi konseling yang disusun oleh mereka yang ahli di bidang tersebut. Dalam bukunya Pengantar Konseling: Teori dan Studi Kasus, John McLeod, mengutip definisi konseling yang dikeluarkan oleh British Association of Counselling:
Kata Konseling mencakup bekerja dengan banyak orang dan hubungan yang mungkin saja bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah. Tugas konseling adalah memberikan kesempatan terhadap klien untuk mengeksplorasi, menemukan dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu.
Ada dua hal penting yang dapat dipetik ialah bahwasanya konseling tidak mutlak dilakukan dengan setting dua individu, serta konseling tidak melulu menghadapi sebuah permasalahan, karena pengembangan diripun menjadi menarik untuk di intervensi. Definisi dari BAC ini sejalan dengan wacana reformasi paradigma BK. Maka itu rumusan mengenai substansi BK menjadi penting sebagai titik pijakan kegiatan BK kedepan. Dan dengan melihat arti dari BAC tadi bukankah ada yang salah dengan substansi dan paradigma Bimbingan dan Konseling saat ini?
(kiriman sdri. Misbahul Jannah (UNMUL Samarinda)

Daftar Pergutuan Tinggi Pelaksana BK

DAFTAR PERGURUAN TINGGI SWASTA
PENYELENGGARA JURUSAN/PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING


No PERGURUAN TINGGI
1 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)
Jl. Gedung Arca No. 53, Telp. 061-716762, Fax. 713488, Medan
2 Universitas Jhabal Ghafur
Jl. Teuku Umar, Telp. 21126, Sigli
3 Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Gunung Sitoli
Jl. Yos Sudarso No 118/E, Telp. 21616, Gunung Sitoli
4 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Budi Daya Binjai
Jl. Gaharu No. 147, Telp. 20746, Binjai
5 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pelita Bangsa
Jl. Kebun Lada No. 24, Telp. 21501, Binjai-Medan
6 Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Jl. Sutan Moch. Arief No. 32, Telp. 21696, Padang Sidempuan
7 Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH.
Jl. Jend. A. Yani No. 1, Bengkulu, Telp. 21536, Fax. 20037
8 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Kotabumi
Jl. Raya Prokimal Sindangsari KM. 3, PO Box 156, Kotabumi, Telp. 22287
9 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Pringsewu
Jl. Makam KH. Cholib No. 112, Pringsewu, Lampung, Telp. 0729-21359
10 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI (STKIP-PGRI) Bandar Lampung
Jl. Khairil Anwar No. 79 Palapa, Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, Telp. 259166
11 Universitas Muhammadiyah Metro
Jl. Lembayung 15 A, Metro, Lampung Tengah, Telp. 0725-42445, 42454
12 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Palembang
Jl. Jend. A. Yani, Lorong Gotong Royong 9/10, Ulu Darat, Telp. 511257, Fax. 514782, Palembang
13 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Suluh Bangsa
Jl. Otista Raya No. 113 B-C, Jaktim 13330
14 Universitas Indraprasta PGRI
Jl. Nangka No. 59, Tj. Barat Jagakrsa, Jaksel 12530
15 Universitas Islam As-Syafiiyah
Jl. Raya Jatiwaringin 12, PO Box 7725 Jat, Cm, Jakarta Timur 13070
16 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Jl. Jend. Sudirman No. 51, Jakarta Selatan 12930
17 Universitas Kristen Indonesia
Jl. Mayjen Soetoyo, Cawang, Jakarta Timur 13630
18 Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Jl. Limau II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12130
19 Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah
Jl. Letjend. Suprapto No. 30C Jakarta Pusat 10000
20 STKIP Catur Sakti
Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo, Bantul 55714
21 Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Kapas No. 9, Semaki, Yogyakarta 55166
Kampus I: Jln.Kapas no 9, Yk, 55166. Telp: 0274-563515.Fax: 0274-564604
Kampus II: Jalan Pramuka no 42, Yogyakarta, 55161. Telp: 0274-371120, 372915, Fax:450368.
Kampus III: Jln Prof. Dr. Soepomo, Janturan, Yk, 55166. Telp: 0274-379419, 381523, Fax: 450368
Email : info [at] uad [dot] ac [dot] id.
22 Universitas Sanata Dharma
Mrican, Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002
Humas Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Mrican, Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002
Telp (0274) 513301, 515352
Fax.(0274) 562383
23 Universitas PGRI Yogyakarta
Jl. PGRI I Sonosewu No. 117, Yogyakarta 55182
24 IKIP PGRI Semarang
Jl. Lontar No. 1, Semarang 50125
IKIP PGRI Wates
Jl. Kertodiningrat No V Pengasih Kulon Progo Yogyakarta 55652
25 IKIP Veteran Jawa Tengah
Jl. Pawiyatan Luhur IV No. 17, Semarang 50233
26 Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro No. 52-60, Salatiga 50711
27 Universitas Muhammadiyah Magelang
Jl. Tidar No. 21, Magelang 56126
28 Universitas Muria Kudus
Gondangmanis, Bae, Kudus 59352
29 Universitas Pancasakti
Jl. Pancasila No. 2, Tegal 52122
30 Universitas Slamet Riyadi
Jl. Sumpah Pemuda No. 18, Banjarsari, Surakarta 57136
31 Universitas Tunas Pembangunan
Jl. Balekambang Lor No. 1, Surakarta 57139
32 Universitas Veteran Bangun Nusantara
Jl. Letjen Sujono Humardani No. 1, Jombor, Sukoharjo 57521
33 IKIP PGRI Banyuwangi
Jl. Jend. A. Yani 80, PO Box 113, Banyuwangi 68416
34 IKIP PGRI Jember
Jl. Jawa No. 10, Jember 68121
35 IKIP PGRI Kediri
Jl. KH. A. Dahlan No. 76, Kediri 64112
36 IKIP PGRI Madiun
Jl. Setiabudi No. 85, Madiun 63118
37 Universitas Bondowoso
Jl. Diponegoro No. 247, Bondowoso 68213
38 Universitas Darul Ulum
Jl. Merdeka No. 29 A, Jombang 61417
39 Universitas Islam Jember
Jl. Kyai Mojo No. 39, Jember 68133
40 Universitas Kanjuruhan
Jl. Supriadi No. 48, Sukun, Malang 65148
41 Universitas Katolik Widya Mandala Madiun
Jl. Manggis No. 15-17, Madiun 63131
42 Universitas Moch. Sroedji
Jl. Sriwijaya No. 32, Jember 68127
43 Universitas PGRI Adi Buana
Jl. Ngagel Dadi III-B No. 37, Surabaya 60245
44 IKIP PGRI Bali
Jl. Seroja, Tonja, Denpasar Timur 80238
45 Universitas Panji Sakti
Jl. Bisma No. 22, Singaraja 81116
46 STKIP Bima
Jl. Gatot Subroto Mande, Kel. Sadia, Bima 84111
47 STKIP Hamzanwadi
Jl. Pahlawan No. 70, Pancor, Selong 83611
48 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Jl. A. Yani No. 5, Kupang 85225
49 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Barru
Jl. Padaelo Tanete, Barru, Telp. 0427-21594
50 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Bone
Jl. Abu Dg. Pasolong No. 139, Watampone, Telp. 0481-22974
51 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pembangunan Indonesia
Jl. Jend. Sudirman No. 42, Ujung Pandang, Telp. 0411-312556
52 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Tompotika
Jl. Dewi Sartika No. 65, Luwuk Banggai, Telp. 21411
53 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Pontianak
Jl. Prof. M. Yamin Gang Ilham Kotabaru Pontianak
54 Universitas Achmad Yani (Uvaya) Banjarmasin
Jl. Jend. A. Yani Km. 5,5 Komp.
55 Universitas Islam Kalimantan Muhammadiyah Arsyad Albanjari
Jl. Adhiyaksa No. 2 RT. 26 , Banjarmasin 70123, Telp. 0511-52592
56 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Sampit
Jl. Padat Karya No. 3, Baamang Hilir Darat, PO Box 152, Sampit, Telp. 0531-31141
57 Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
Jl. RTA. Milono Km. 1,5 Palangkaraya, Telp. 22184

DAFTAR PERGURUAN TINGGI NEGERI
PENYELENGGARA JURUSAN/PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING

No PERGURUAN TINGGI
1 Universitas Negeri Medan
Jln.Wiliam Iskandar Psr.V Medan Estate
Telepon (061) 613365, 613276, 613319
Fax 614002, 613319
2 Universitas Negeri Padang
Kampus IKIP Air Tawar, Padang
Telepon 51260, 53902, 58691, 58692, 55689, 52664, 55601
3 Universitas Negeri Jakarta
Jl. Rawamangun Muka Jakarta 13220 Indonesia
Telpon: ++62 21 4890046, 4893726, 489 3982, 475 2180
Fax: ++62 21 4893726
Email: administrator@unj.ac.id
Website: www.unj.ac.id
4 Universitas Pendidikan Indonesia
Jln.Dr.Setiabudhi No.229, Bandung
Telepon : (022) 213651, 213162
Fax : 213651
5 Universitas Negeri Semarang
Sekaran Gunungpati, Semarang
Telepon: 562561
Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI) Universitas Negeri Semarang Gedung H (Rektorat) lantai 2 Telepon: (024) 8508091- 8508093 psw 22 Fax. (024) 86458339 e-mail: unnes@unnes.ac.id, informasi_unnes@telkom.net http://bapsi.unnes.ac.id/
Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229
6 Universitas Negeri Yogyakarta
Kampus Ikip Karangmalang - Yogyakarta
Telepon: (0274) 586168, 586034, 586075, 586903
Fax: 565500
7 Universitas Negeri Surabaya
Kampus IKIP, Jln.Ketintang Surabaya 60231
Telepon: (031) 8280009, 8280383, 8280675, 8280768
Fax: 8280804
8 Universitas Negeri Malang
Jln.Surabaya 6, Malang - 65145
Telepon: (0341) 551312 (4 Saluran)
Fax: 551921
E-Mail: Ikipmlg@mig.mega.net.id
Homepage: Http://www.malang.ac.id/
9 Universitas Pendidikan Ganesha
Jl. Ahmad Yani No. 67 Singaraja
Telepon: (0362) 22570, 21947, 24928, 25575, 25576
Fax: 25735
10 Universitas Palangkaraya
Kampus UNPAR Tanjung Nyahu
Jln Yos Sudarso Palangkaraya - 731112
Telepon: (0536) 21722, 20445 Fax : 21772
11 Universitas Negeri Manado
Kampus IKIP Manado di Tondano
Telepon: (0431) 321854, 321846
Fax: 321866
12 Universitas Nusa Cendana
Jln. Adisucipto, Penful-Kupang
Telepon: (0391) 21680, 22515, 22503
Fax: 21674
13 Universitas Cendrawasih
Kampus Baru Waena, Jayapura, Irian Jaya
PO BOX 422
Telepon: (0967) 72101, 72106, 72104, 72110
Fax: 72102
14. Universitas Negeri Makassar
Kampus Gunungsari Baru
Jl. A.P. Pettarani Makassar 90222 Indonesia
Telp : +62(0411) 869854
15. Universitas Negeri Gorontalo
Jl. Jend. Sudirman No 6 Kota Gorontalo,
Telp. +62 435 821125 Fax. +62 435 821752

Bimbingan dan Konseling di sekolah saat ini...

Suatu Ketika,..
di sebuah sekolah,.. di dalam sebuah ruangan yang di pintunya terpasang papan nama " RUANGAN BK", seorang guru pembimbing terlihat sibuk.
sesekali dia nampak membuka-buka arsip, seperti sedang mencari informasi. Mungkin informasi tentang biodata tentang siswa asuhnya, atau mungkin saja sedang membuka kembali Rancangan Program tahunannya.
setelah itu dia keluar ruangan, dan berkeliling di sekitaran sekolah itu.
Di depan sebuah kelas, dia mendapati beberapa orang siswanya dengan pakaian yang tidak rapi. Siswa itu kemudian dipanggil dan di beritahu sesuatu oleh pembimbing, mungkin nasehat atau mungkin semacam teguran. Belakangan diketahui, ternyata siswa-siswa itu adalah "Pengunjung rajin" ruang BK. Siswa yang kedapatan itu kelihatan menggerutu, dan berkata,"WADUH,.. DAPAT HUKUMAN LAGI NIH"
Guru Pembimbing itu kemudian membawa siswa-siswa itu ke ruangannya,...
Cukup lama mereka berada di dalam. dan beberapa saat kemudian, siswa itu keluar dengan masing-masing membawa secarik kertas. kertas itu ternyata adalah surat pernyataan siswa untuk tidak lagi melakukan pelanggaran.
di luar ruangan, siswa itu berpapasan dengan seorang guru bidang study di sekolah itu. sang guru kemudian menyapa dan menanyakan perihal kertas itu. setelah membacanya, guru itu nampak tersenyum sambil berkata,.....
"SAYA SIH JUGA BISA KALO CARANYA SEPERTI INI,....."
Di lain waktu kemudian,...
seorang guru mata pelajaran masuk ke dalam ruang BK. Dia meminta agar digantikan sejenak untuk mengisi jam pelajarannya, karena katanya dia sedang ada urusan mendadak di luar. karena sedang tidak ada kerjaan, guru pembimbingpun menyanggupinya dan masuk mengisi jam pelajaran di kelas itu.


Peristiwa-peristiwa seperti ini mungkin adalah gambaran umum tentang kerja-kerja profesi yang dilakukan oleh para alumni2 Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Hal Tersebut menuntun kita untuk berpikir bahwa ternyata Masih banyak hal yang harus dibenahi. Mulai Kualifikasi person dari seorang pembimbing, Pencitraan, Sampai kepada pemahaman elemen2 yang ada di sekolah tentang Peran dan Fungsi dari Bimbingan dan Konseling.

Saya melihat hal-hal seperti inilah yang menarik untuk didiskusikan bersama teman-teman yang kelak akan terjun di profesi ini. Semoga saja muncul gagasan2 baru untuk ke depannya melalui diskusi-diskusi yang kita lakukan di Group ini.
(kiriman sdr. Muh. Alfian (Universitas Negeri Makassar))